Ketika Anak Menjadi Sumber Air Mata

Rp15.000

Khotbah siap pakai untuk ibadah kaum perempuan berdasarkan Lukas 7:11–17. Melalui kisah janda di Nain, khotbah ini meneguhkan para orang tua yang sedang bergumul karena anak bahwa Tuhan melihat air mata mereka, memahami rasa bersalah dan kecemasan mereka, serta sanggup memberi hikmat, kekuatan, dan harapan baru bagi anak maupun keluarga.

PDF Digital • Unduh setelah pembayaran • Maks. 5 kali unduhan • Lisensi Pelayanan 1 pengguna

Deskripsi

Ketika Pergumulan Anak Menguras Hati Orang Tua, Tuhan Tetap Melihat, Peduli, dan Membuka Harapan

Lukas 7:11–17

Anak adalah berkat, tetapi dalam perjalanan hidup, anak juga dapat menjadi sumber air mata. Ada orang tua yang menangis karena anaknya sakit, sulit dinasihati, jauh dari Tuhan, salah bergaul, mengalami kegagalan, atau terluka oleh kehidupan. Bagi seorang ibu, penderitaan anak sering terasa seperti penderitaan dirinya sendiri.

Ketika Anak Menjadi Sumber Air Mata adalah khotbah siap pakai untuk ibadah kaum perempuan yang mengangkat kisah janda di Nain dalam Lukas 7:11–17. Perempuan ini kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Kehilangan itu bukan hanya duka seorang ibu, tetapi juga kehancuran harapan, masa depan, dan pegangan hidupnya. Namun justru di tengah tangisan itu, Yesus hadir.

Yesus tidak hanya melihat jenazah atau rombongan yang sedang berjalan. Ia melihat seorang ibu yang sedang hancur. Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak menganggap air mata sang ibu sebagai kelemahan, dan tidak datang untuk menyalahkan. Ia datang membawa pertolongan.

Khotbah ini juga berbicara kepada orang tua masa kini yang bergumul karena anak. Tidak semua pergumulan anak disebabkan oleh kegagalan orang tua. Ada bagian yang perlu dievaluasi dan diperbaiki, tetapi ada juga hal-hal yang memang berada di luar kendali. Karena itu, kasih kepada anak tidak boleh membuat orang tua tenggelam dalam rasa bersalah yang menghancurkan.

Khotbah ini membawa pesan utama bahwa Tuhan melihat air mata orang tua yang terluka karena anaknya. Ketika anak menjadi sumber duka, kecemasan, atau pergumulan, Tuhan hadir dengan belas kasihan, memberi kekuatan, dan membuka harapan baru.

Di dalam naskah ini Anda mendapatkan:

  • pengantar yang dekat dengan pergumulan nyata orang tua tentang anak;
  • penjelasan Lukas 7:11–17;
  • refleksi tentang janda di Nain sebagai ibu yang kehilangan anak satu-satunya;
  • peneguhan bahwa Tuhan melihat air mata dan doa orang tua;
  • pemahaman bahwa anak adalah titipan Tuhan dan tidak seluruh hidupnya dapat dikendalikan orang tua;
  • refleksi tentang rasa bersalah orang tua dan pentingnya evaluasi yang sehat;
  • peneguhan bahwa tidak semua yang terjadi pada anak adalah kesalahan orang tua;
  • ajakan untuk mengasihi anak dengan iman, hikmat, dan penyerahan;
  • tiga penerapan utama yang dapat langsung disampaikan dari mimbar;
  • dorongan untuk tetap berdoa tanpa tenggelam dalam ketakutan;
  • penutup yang mengarahkan orang tua kepada pengharapan dalam Kristus;
  • doa penutup;
  • catatan khusus untuk pengkhotbah mengenai nada penyampaian, bagian yang perlu ditekankan, lagu yang cocok, dan pertanyaan refleksi;
  • lisensi penggunaan pelayanan yang jelas.

Tiga peneguhan utama khotbah ini adalah: Tuhan melihat air mata orang tua yang terluka karena anaknya; kasih kepada anak tidak boleh membuat orang tua tenggelam dalam rasa bersalah; dan Tuhan sanggup membangkitkan harapan bagi anak dan orang tua.

Spesifikasi Produk

Kode: SKP-09
Format: PDF
Bahasa: Indonesia
Kategori: Khotbah Siap Pakai – Kaum Perempuan
Seri: Seri 1 – Tuhan Melihat Air Mata Perempuan
Bacaan Alkitab: Lukas 7:11–17
Lisensi: Lisensi Pelayanan – 1 pengguna
Pengiriman: Produk digital, tidak ada pengiriman fisik.

Lisensi Pelayanan

Pembeli diperbolehkan membaca dan menyimpan file untuk penggunaan pribadi, mencetak satu salinan pribadi, serta menyampaikan dan mengadaptasi materi khotbah sesuai konteks pelayanan. Dalam penyampaian khotbah secara lisan, pengkhotbah tidak diwajibkan menyebut nama penulis dari mimbar. File tidak boleh dijual kembali, dibagikan kepada pihak lain, diunggah untuk distribusi umum, digandakan secara massal, diterbitkan ulang, diterjemahkan untuk diedarkan, atau diakui sebagai karya sendiri tanpa izin tertulis.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Ketika Anak Menjadi Sumber Air Mata”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *